Tampilkan postingan dengan label seksualita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seksualita. Tampilkan semua postingan

Posisi Bercinta Yang Aman Saat Hamil

Dulu bila sang istri sedang hamil, maka sang suami dilarang untuk melakukan hubungan seksual karena takut akan membahayakan janin dalam kandungan. Tapi jangan khawatir...hubungan seksual saat kehamilan adalah hal yang aman bahkan tetap bisa memberikan kepuasan baik untuk sang wanita maupun prianya.

Posisi Bercinta Saat Hamil benar aman untuk bayi?
Jawabannya adalah aman selama anda tidak memiliki kondisi yang memang melarang sang ibu melakukan hubungan seksual seperti :

  • Riwayat keguguran pada kehamilan sebelumnya
  • Riwayat kelahiran premature pada kehamilan sebelumnya
  • Kehamilan kembar
  • Plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir)
  • Kehamilan dengan cairan ketuban sedikit (oligohidroamnion)
  • Perdarahan lewat vagina selama kehamilan

Hubungan seksual tidak akan menimbulkan keguguran dan tidak akan mengganggu janin karena janin dilindungi oleh kantong amnion (ketuban) dan lendir leher rahim sehingga tak akan tersentuh.
  
Posisi Bercinta Saat Hamil Yang Aman Apa Saja?
#1 Posisi sendok.
  • Pada posisi ini sang wanita berbaring di satu sisi badan, sedang sang pria berbaring di sisinya menghadap pungggung wanita lalu melakukan penetrasi dari arah belakang.
  • Dengan posisi sendok ini kandungan akan terhindar dari tekanan berat badan pasangan dan sang wanita pun lebih leluasa dalam bergerak.
  • Usahakan sang wanita berbaring di sisi kiri karena bila di sisi kiri, pembuluh darah balik (vena cava) tidak akan tertekan dan aliran darah ke janin terjamin.
  • Selain itu posisi sendok ini paling baik dilakukan saat kehamilan memasuki trimester ketiga dimana kandungan sudah besar dan wanita lebih nyaman dengan penetrasi penis yang pendek saja.
 

#2 Posisi sisi sama sisi.
  • Pada posisi ini pasangan saling berhadapan.
  • Memang dalam melakukan penetrasi memerlukan sedikit trik, yaitu sang pria memasukkan kakinya diantara kedua kaki wanita dimana kaki wanita bisa ditekuk atau diluruskan.
  • Posisi ini baik dilakukan pada usia kehamilan trimester ketiga karena tidak membebani kandungan dengan berat badan pasangan dan penetrasi penis pun menjadi pendek.
  • Selain itu posisi ini membuat anda dan pasangan anda bisa saling menatap wajah saat berhubungan seksual.
  • Usahakanlah posisi wanita adalah berbaring ke sisi kiri.
#3 Posisi wanita diatas.
  • Posisi ini adalah posisi yang memberi kebebasan bagi wanita untuk menentukan sudut penetrasi, kecepatan penetrasi penis dan kedalamannya sekaligus menghindarkan kandungan dari tekanan berat badan.
  • Para pria harus mengusahakan agar penetrasi penis tidak dalam.
  • Ada yang merasa posisi ini nyaman dilakukan pada trimester ketiga, tapi ada pula yang mengeluhkan kelelahan karena beban kandungan saat pergerakan. Jadi ini tergantung anda mana posisi yang nyaman.
#4 Posisi bergantung di tempat tidur.
  • Pada posisi ini wanita berbaring dengan posisi panggul di tepi tempat tidur kemudian anda menopang kedua paha anda dengan tangan anda.
  • Lalu sang pria melakukan penetrasi dari tepi ranjang dalam posisi berdiri atau berlutut.
  • Posisi ini adalah posisi yang paling aman dan menyenangkan bagi sang wanita.
  • Selain itu posisi ini bisa untuk semua usia kehamilan.
  • Bila memasuki trimester ketiga dapat divariasikan dengan wanita berbaring ke sisi kiri.
 

#5 Posisi dari belakang.
  • Posisi yang beken disebut doggy style ini memungkinkan penetrasi yang dalam dari penis dan menghindarkan kandungan dari tekanan berat badan.
  • Komunikasikanlah dengan sang pria sejauh mana penetrasi diinginkan dan berhentilah bila mulai terasa sakit atau tubuh lelah menopang badan anda.
  • Posisi ini disukai karena dapat merangsang area G-spot wanita dan membantu wanita mencapai orgasme
#6 Posisi misionaris/konvensional.
  • Posisi ini adalah posisi yang paling sering dilakukan dimana wanita di bawah dan pria diatas.
  • Posisi ini dapat dilakukan saat kehamilan masih trimester pertama dan kedua.
  • Tapi saat trimester ketiga anda masih bisa melakukan gaya ini tapi akan lebih nyaman bila ditambahkan bantal di bawah bokong agar posisi tubuh dapat menyangga dengan baik kandungan dan nyaman saat pergerakan.
Lalu bagaimana dengan seks oral aman-kah untuk dilakukan? Tentu saja aman untuk dilakukan, anda bisa mencoba variasi hubungan seksual ini dengan pasangan anda pada usia kehamilan berapapun. Hanya saja ingatlah untuk tidak meniup udara ke dalam vagina karena bisa menimbulkan emboli yang dapat membahayakan janin. Apakah wanita boleh mencapai orgasme? Tentu saja boleh, selama anda tidak memiliki riwayat penyakit yang menghalangi anda untuk melakukan hubungan seksual seperti yang tertera diatas, maka anda sebagai wanita berhak mencapai orgasme atau kenikmatan puncak tersebut. Tips dan trik berhubungan seksual saat hamil :
  • Pastikan anda sedang merasa nyaman dan rileks saat berhubungan seksual
  • Hindari penggunaan lubrikan atau benda asing apapun ke dalam vagina
  • Usahakan agar penetrasi penis tidak terlalu dalam karena sering menimbulkan rasa tidak nyaman pada wanita.
  • Hindari hubungan seksual bila pasangan sedang mengidap penyakit kelamin atau infeksi di genitalia.
  • Hindari perangsangan puting susu wanita karena perangsangan puting susu bisa mengeluarkan hormon oksitosin yang bisa merangsang kontraksi rahim.
  • Hindari menekan kandungan dengan berat badan terlalu lama.
  • Lakukanlah hubungan seksual disaat anda memang menginginkan, anda sebagai wanita berhak mengatakan tidak dan anda sebagai pria  harus memaklumi perubahan mood akibat hormonal ini.
Komunikasi dan saling pengertian dibutuhkan antara anda dan pasangan anda agar dicapai hubungan seksual yang menyenangkan untuk anda berdua dan tetap aman bagi janin dalam kandungan. Jadi berhubungan seksual selama kehamilan..kenapa tidak ?!? 

Sumber :
http://sexuality.about.com/od/sexualpositions/a/pregnantsexposi.htm
http://www.ivillage.com/safe-sex-during-pregnancy-10-things-you-need-know/6-a-144557
http://www.mayoclinic.com/health/sex-during-pregnancy/HO00140
http://www.babymed.com/sex-and-pregnancy/best-sex-positions-pregnancy
https://www.tanyadok.com

Apakah Sunat Pada Wanita Diperlukan?

Sunat adalah hal yang lazim kita temukan di negara kita, baik yang dilakukan pada pria maupun wanita. Sunat sebenarnya erat kaitannya dengan agama atau kepercayaan serta faktor budaya setempat. Praktik sunat biasanya dijalankan oleh umat beragama Islam, yang merupakan agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat kita. Sunat pada pria sudah diakui oleh WHO berguna untuk kesehatan, sedangkan sunat pada wanita sampai saat ini belum ditemukan kegunaannya dalam bidang kesehatan.

Menurut dunia internasional, sunat pada wanita merupakan suatu tindak kekerasan yang dilakukan pada seorang wanita. Istilah yang digunakan oleh dunia internasional untuk sunat pada wanita adalah Female Genital Mutilation (FGM) atau Female Genital Cutting (FGC). Sedangkan istilah untuk sunat pada pria adalah Male Circumcision. Baiklah, sebelum kita melanjutkan pembahasan mengenai praktik sunat pada wanita, kita terlebih dahulu membahas tentang anatomi organ reproduksi wanita eksternal. Organ reproduksi wanita terdiri dari pubis, labia mayora (bagian luar kemaluan wanita sebagai penutup, berbentuk seperti bibir), labia minora (penutup bagian dalam kemaluan wanita), dan klitoris.

  • Pubis adalah organ paling luar pada kelamin wanita maupun pria. Organ ini dibentuk oleh jaringan lemak yang meningkat jumlahnya pada waktu pubertas dan menurun pada waktu menopause pada seorang wanita. Organ ini akan ditumbuhi oleh rambut-rambut yang memenuhi seluruh permukaan setelah pubertas.
  • Labia mayora adalah organ yang terletak di antara pubis dan anus (lubang pantat). Organ ini menyerupai bentuk bibir (labia=bibir) dan juga tertutup rambut pada bagian luarnya. Labia mayora lebih tebal jika dibandingkan dengan labia minora. Warnanya merah jambu. Fungsinya secara tidak langsung melindungi saluran kemih dan organ-organ lain di dalamnya.
  • Labia minora adalah organ menyerupai bibir yang terletak di dalam labia mayora dan ukurannya lebih kecil. Warnanya juga merah jambu.
  • Klitoris. Organ ini memiliki sifat yang sama dengan penis pada pria. Organ ini sangat sensitif terutama terhadap rangsang taktil (sentuhan). Perbedaan klitoris dengan penis adalah penis digunakan juga untuk berkemih, sedangkan klitoris tidak.
WHO mengklasifikasikan bentuk FGM dalam 4 tipe, yaitu:
  • Tipe I : Clitoridotomy. Yaitu eksisi dari permukaan (prepuce) klitoris, dengan atau tanpa eksisi sebagian atau seluruh klitoris. Dikenal juga dengan istilah sunna di Sudan.
  • Tipe II : Clitoridectomy. Yaitu eksisi sebagian atau total dari labia minora, tipe yang lebih ekstensif dari tipe I. Banyak dilakukan di negara-negara bagian Afrika Sahara, Afrika Timur, Mesir, Sudan, dan Peninsula. Dikenal dengan istilah matwasat di Sudan.
  • Tipe III : Infibulasi/Pharaonic Circumcision (Khitan Ala Firaun). Yaitu eksisi sebagian atau seluruh bagian genitalia eksterna dan penjahitan untuk menyempitkan mulut vulva. Penyempitan vulva dilakukan dengan hanya menyisakan lubang sebesar diameter pensil agar darah saat menstruasi dan urine tetap bisa keluar. Merupakan tipe terberat dari FGM.
  • Tipe IV : tidak terklasifikasi, termasuk di sini adalah menusuk dengan jarum baik di permukaan saja ataupun sampai menembus, atau insisi klitoris dan labia; meregangkan (stretching) klitoris dan vagina; kauterisasi klitoris dan jaringan sekitarnya; menggores jaringan sekitar introitus vagina (angurya cuts) atau memotong vagina (gishiri cut), memasukkan benda korosif atau tumbuh-tumbuhan agar vagina mengeluarkan darah, menipis dan atau menyempit; serta berbagai macam tindakan yang sesuai dengan definisi FGM di atas.
Menurut WHO, praktik FGM tidak memberikan keuntungan apapun. Tindakan tersebut sangat berbahaya karena dapat merusak jaringan organ reproduksi wanita. Komplikasi yang terjadi dapat berupa rasa nyeri yang hebat, syok, pendarahan, tetanus, sepsis (infeksi karena bakteri), dan gangguan berkemih. Dampak jangka panjang yang terjadi dapat berupa:
  1. Infeksi saluran kemih berulang
  2. Kista
  3. Infertilitas (mandul)
  4. Tindakan bedah selanjutnya harus dilakukan untuk membuka jahitan jika wanita tersebut ingin mempunyai anak (pada kasus tipe III) dan kemudian ditutup kembali setelah melahirkan
  5. Peningkatan risiko kematian kelahiran bayi.
  6. Pada suatu laporan kasus dari seorang wanita Sudan yang mengalami FGM tipe IV didapati bahwa ia mengalami keterlambatan masa pubertas, seperti payudara yang terlambat membesar dan rambut pubis yang tidak tumbuh sesuai dengan usianya.
Jadi, kita dapat melihat bahwa sampai saat ini, praktik sunat pada wanita belum dapat ditemukan kegunaannya, bahkan dapat menyebabkan akibat-akibat yang membahayakan kesehatan.

Daftar Pustaka: 
1) Kebijakan Departemen Kesehatan Terhadap Medikalisasi Sunat Perempuan.2007. Available from URL: http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=1002&tbl=biaswanita.
 2) Female Genital Mutilation.2008. Available from URL: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs241/en. 
3) Keith L. Moore and Arthur F. Dalley. 2006. Clinically Oriented Anatomy Fifth Edition. 
4) Reliability of Self Reported Form of Female Genital Mutilation and WHO Classification:Cross Sectional Study.2006. Available from URL: . 
5) Female Genital Mutilation of A Karyotypic Male Presenting As A Female With Delayed Puberty. 2006. http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6874-6-6.pdf
6) tanyadok.com

Apa yang Menyebabkan Kanker Serviks

Dalam hampir semua kasus, penyebab kanker serviks adalah hasil dari perubahan dalam DNA sel yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Perubahan dalam struktur DNA ini pun dikenal sebagai mutasi. Hal ini dapat mengubah instruksi yang mengontrol pertumbuhan sel. Jika sel-sel bereproduksi tak terkendali, mereka menghasilkan benjolan dari jaringan yang disebut tumor. Pilihan pengobatan pun menjadi terbatas karena sel-sel dan pertumbuhan abnormal terlalu kecil untuk terdeteksi. Jika kanker serviks ini terjebak di tahap akhir, sel-sel tersebut akan menyebar ke bagian tubuh lainnya (metastasis). Diperlukan waktu 10 sampai 15 tahun bagi kanker serviks untuk berkembang di dalam tubuh. Para wanita pun harus berjuang melawan tahap-tahap kanker lain pada  organ-organ vital mereka. 

Human Papillomavirus (HPV) Virus HPV merupakan salah satu penyebab kanker serviks pada wanita. HPV sendiri merupakan satu golongan virus dengan 100 jenis macamnya. Dan lebih dari 99% kasus kanker serviks yang terjadi pada wanita, beberapa di antaranya telah terinfeksi virus ini.   Tahukah anda bahwa ada 15 jenis HPV yang menjadi penyebab kanker serviks? Virus HPV tipe 16 dan 18 adalah dua tipe yang menyebabkan sekitar 7 dari 10 kanker serviks. Walaupun beberapa jenis HPV tidak akan menimbulkan gejala kanker serviks atau infeksi (kutil kelamin), kedua jenis HPV tipe 16 dan 18 sudah terbukti dapat meningkatkan faktor risiko kanker serviks.   HPV menyebar selama berhubungan seksual atau selama terjadi kontak pada kulit kelamin. 1 dari 3 wanita terbukti mengembangkan infeksi HPV hanya dalam waktu 2 tahun saja sejak pertama kali berhubungan seksual secara rutin. 4 dari 5 wanita kemudian juga terbukti mengembangkan infeksi tersebut di beberapa titik dalam tubuh mereka.

 Selain tes pap smear, para wanita juga disarankan untuk menyuntikkan vaksin HPV sebagai cara mencegah penularan virus HPV.   Seseorang dengan stadium akhir kanker serviks gejalanya sering dikaitkan dengan tempat-tempat di mana sel-sel kanker tersebut menyebar. Mereka dapat dengan cepat menyebar ke bagian tubuh penting lainnya, seperti hati, paru-paru, rektum, kandung kemih atau vagina. Jika sel-sel kanker serviks berada di paru-paru, sesak napas dan nyeri dada konstan dapat terjadi jika sel-sel tsb masih dalam Stadium 2. Sel kanker serviks di rektum dapat menyebabkan infeksi bakteri besar karena masalah dubur dapat menjadi rusak akibat pertumbuhan tumor yang besar. Sel di dalam kandung kemih juga bisa berubah menjadi tumor yang menghalangi jalan limbah pencernaan tubuh, menyebabkan penumpukan urine pada ginjal, yang bertanggung jawab untuk menyaring limbah dari darah.

tanyadok

10 Hal yang Menganggu Ereksi Pria

Disfungsi ereksi memang menjadi masalah besar bagi pria. Hal yang menandakan kejantanan ini tiba-tiba loyo dan tak berdaya. Nah Anda bisa bantu cegah disfungsi ereksi. Yuk lihat beberapa hal yang bisa sebabkan disfungsi ereksi:

  1. Depresi Otak Anda sebenarnya adalah organ yang erotis. Di sini saraf-saraf distimulasi yang membuat hasrat seksual, termasuk ereksi. Ketika pikiran Anda turun karena depresi, semua kesenangan Anda buyar sudah. Ironisnya juga, obat anti depresi biasanya juga akan menyulitkan Anda untuk ereksi. 
  2. Alkohol Masih perlu ditanya? Minum alkohol mungkin dijadikan pelarian bagi sebagian orang, dan tak jarang membuat Anda jadi kecanduan serta susah berhenti. Penggunaan alkohol berlebihan bisa meyebabkan disfungsi ereksi. Namun, penggunaan alkohol yang sesuai misalnya satu gelas standar sehari memang dapat menurunkan resiko gangguan jantung. Penurunan resiko gangguan jantung ini membuat resiko disfungsi ereksi pun menurun. Jadi, jangan berlebihan! 
  3. Obat-obatan Banyak obat yang efek sampingnya bisa membuat disfungsi ereksi, misalnya antidepresan, beberapa obat anti hipertensi. Selain itu berbagai jenis narkotika seperti kokai, ganja, amfetamin pun bisa membuat gangguan ereksi. 
  4. Stresssss! Stres membuat tubuh Anda menjadi tak bugar. Bahkan Anda pun jadi tak berminat dengan seks. 
  5. Konflik dengan si dia Rasa marah, kecewa dengan pasangan membuat Anda jadi tak bisa fokus terhadap seks. Buatlah suasana romantis tanpa kemarahan, lebih baik bukan? 
  6. Cemas Rasa cemas Anda bahwa Anda tak sehebat dulu di tempat tidur, malah akan membuat diri menjadi jatuh. Anda harus menyingkirkan jauh-jauh rasa cemas itu. Justru rasa cemas itu yang membuat gangguan ereksi semakin buruk. 
  7. Semakin tua, semakin gemuk Perut ini semakin tua semakin membuncit? Rasa percaya diri Anda semakin menurun? Semakin gemuk juga akan membuat hormon testosteron Anda semakin terkubur. Selain itu kegemukan juga membuat risiko gangguan pembuluh darah, termasuk di alat vital Anda. Jauhi kegemukan! 
  8. Percaya diri Semakin Anda membangun rasa percaya diri, maka aura Anda akan semakin baik. Anda akan semakin menghargai diri Anda, begitu juga dengan pasangan akan melihat Anda. 
  9. Libido rendah Libido rendah memang tak sama dengan disfungsi ereksi, tetapi hal ini bisa disebabkan oleh hal-hal di atas seperti rasa cemas, rasa tak percaya diri, dan lainnya. 
  10. Kesehatan Anda Anda harus menjaga kesehatan Anda secara prima. Dengan kesehatan yang baik, maka sistem otot, saraf, dan lainnya akan dalam keadaan yang optimal. Begitu pula dengan kehidupan seks Anda! Disarikan dari WebMD
Sumber : https://www.tanyadok.com

Apakah Penis Bengkok Itu Normal?

Sebagian orang merasa khawatir karena memiliki alat vital (penis) yang bengkok ke kiri atau ke kanan. Apakah keadaan tersebut normal? Apakah dapat menyebabkan impotensi? Adakah posisi khusus dalam melakukan hubungan seksual untuk menyiasati hal tersebut? Istilah "Peyronie" mungkin masih awam untuk sebagian orang. Peyronie adalah terbentuknya plak atau jaringan ikat yang mengeras pada salah satu sisi penis, sehingga akan membuat penis melengkung saat ereksi.
Setiap pria dalam rentang umur 18 - 50 tahun dapat saja mengalami peyronie. Sampai saat ini, penyebab peyronie belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli berpendapat bahwa peyronie dipengaruhi oleh masalah genetik dan cara meletakkan penis yang terlalu ke kanan atau ke kiri. Peyronie dapat juga disebabkan oleh trauma yang tidak disadari saat melakukan hubungan seksual. Tidak semua penis bengkok termasuk dalam kelompok peyronie. Penis dengan kebengkokan kurang dari 30o termasuk dalam variasi normal. Ada tiga gejala khas peyronie yang harus diperhatikan:
  1. Terdapat benjolan keras pada batang penis
  2. Penis bengkok saat ereksi
  3. Penis terasa sakit saat ereksi dan melakukan hubungan seksual.
Apa yang harus dilakukan? Terkadang gangguan ini bisa hilang dengan sendirinya meskipun memakan waktu dan tergantung kondisi penderita. Tetapi apabila keadaan tersebut berlangsung secara terus - menerus selama 1 bulan, sebaiknya segera kunjungi dokter Anda.

Apakah Peyronie dapat menyebabkan impotensi? Impotensi adalah suatu ketidakmampuan penis untuk ereksi sehingga tidak dapat melakukan hubungan seksual. Hal ini jarang ditemukan pada pasien dengan Peyronie. Pada umumnya, pasien hanya mengeluhkan ketegangan penis yang berkurang saat ereksi dan bersifat sementara. Tetapi apabila sudah terjadi gangguan aliran darah balik, maka dapat terjadi disfungsi ereksi dan pasien memerlukan pengobatan.Apakah Peyronie dapat menyebabkan impotensi? Impotensi adalah suatu ketidakmampuan penis untuk ereksi sehingga tidak dapat melakukan hubungan seksual. Hal ini jarang ditemukan pada pasien dengan Peyronie. Pada umumnya, pasien hanya mengeluhkan ketegangan penis yang berkurang saat ereksi dan bersifat sementara. Tetapi apabila sudah terjadi gangguan aliran darah balik, maka dapat terjadi disfungsi ereksi dan pasien memerlukan pengobatan.

Bagaimana mengobati penis yang bengkok ini? Tujuan terapi adalah untuk mempertahankan fungsi seksual. Dalam beberapa kasus ringan, tidak diperlukan intervensi medis, pasien hanya perlu diberi edukasi mengenai keadaannya. Obat - obat berikut ini dapat digunakan dalam terapi peyronie:

  • Vitamin E, dapat memperlambat progresivitas terbentuknya plak.
  • Verapamil, sering digunakan dalam pengobatan darah tinggi, terbukti dapat mengurangi ukuran plak dan menurunkan rasa sakit. Pemberian verapamail dilakukan dengan cara menyuntikkannya secara langsung ke plak.
  • Kolkisin, obat yang biasa digunakan dalam tatalaksana gout. Obat ini bekerja melawan inflamasi dan pembentukan jaringan ikat.
  • Terapi kejut Extracorporeal atau ESWT (Extracorporeal Shock Wave Therapy), pengobatan baru yang digunakan di beberapa rumah sakit. Pengobatan baru ini terbukti efektif.
  • Operasi, hanya diindikasikan apabila Anda telah menderita peyronie parah yang mengganggu fungi seksual selama setahun atau lebih dan tidak ada perbaikan setelah dilakukan terapi lainnya. Ada tiga jenis prosedur operasi.
  1. Prosedur Nesbitt - paling sering dilakukan, bertujuan untuk menghilangkan jaringan yang menyebabkan bengkok dan mengembalikan penis kembali ke posisi normal (lurus);
  2. Pencangkokan jaringan - lebih jarang dilakukan, dengan melakukan penggantian jaringan yang rusak dengan jaringan yang sehat dari tempat lain (graft);
  3. Implantasi - sangat jarang dilakukan.
Trik berhubungan seks Tak perlu cemas, penis bengkok tak berarti tak bisa memuaskan pasangan. Yang penting Anda dan pasangan dapat mengomunikasikan dan mendiskusikan posisi yang tepat sehingga sama - sama mencapai kepuasan.
  • Posisi Woman on Top (WOT), posisi ini memudahkan pria mengatur kedalaman penetrasi atau mengontrol gerakan selama bercinta.
  • Gaya spooning, caranya, minta pasangan berbaring menyamping dan membelakangi Anda, lakukan penetrasi dari arah belakang.
  • Kombinasi gaya spooning dan doggy style. Untuk posisi ini, pasangan perempuan juga harus aktif memberikan akses yang sempurna. Tentunya dukungan dan pengertian pasangan akan membantu menekan kekhawatiran dan kecemasan Anda saat berhubungan seks.
Sumber: 
Http://www.peyronies.org/ http://en.wikipedia.org/wiki/Peyronie%27s_disease http://id.shvoong.com/medicine-and-health/gynecology/1986196-penis-bengkok-ereksi-trik-dan/ http://id.shvoong.com/social-sciences/1915877-posisi-making-love-buat-si/
https://www.tanyadok.com

Apa AIDS Bisa Menular Melalui Ciuman?

AIDS (Acquired Imunodeficiency Syndrom) adalah kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sebuah retrovirus (suatu golongan virus) yang menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia, terutama CD4-T cell dan macrophage (komponen vital dari sistem kekebalan tubuh) dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Hilangnya atau berkurangnya sistem kekebalan / daya tahan tubuh membuat si penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit termasuk penyakit ringan sekalipun. Jadi, virus ini bukan sumber infeksi atau penyakitnya sendiri. Oleh karena itu, kebanyakan pasien AIDS meninggal dunia akibat pneumonia atau penyakit infeksi lainnya, bukan karena HIV, di mana keadaan tubuh penderita sudah tidak mampu lagi melawan penyakit tersebut. Yang harus diingat adalah HIV positif bukan berarti AIDS, AIDS terjadi bila seluruh sistem kekebalan tubuh sudah rusak. Ketika tubuh manusia terkena virus HIV, maka orang yang terinfeksi HIV tersebut tidak langsung menyebabkan atau menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan sesuai dengan perjalanan perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap. Sehingga, dapat dikatakan, AIDS merupakan stadium terakhir dari infeksi HIV. 

Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun 1981. Virus penyebab AIDS diidentifikasi oleh Luc Montagnier pada tahun 1983 yang pada waktu itu diberi nama LAV (lymphadenopathy virus) sedangkan Robert Gallo menemukan virus penyebab AIDS pada tahun 1984 yang saat itu dinamakan HTLV-III. Akan tetapi, dari beberapa literatur sebelumnya telah ditemukan kasus yang cocok dengan definisi surveilans AIDS pada tahun 1950 dan 1960-an di Amerika Serikat. Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987, yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Kasus kedua infeksi HIV ditemukan pada bulan Maret 1986 di RS Cipto Mangunkusumo. Dalam tubuh orang yang terinfeksi HIV, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Terdapat penelitian yang mengatakan bahwa dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun, dan hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS sesudah 13 tahun, dan kemudian meninggal. Oleh karena itu, jagalah tubuh Anda dengan menghindari hal-hal yang mendukung penyebaran HIV.

Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut (3-6 minggu setelah terinfeksi). Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam / kemerahan, diare atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Meskipun tanpa gejala, secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV akan memburuk. Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya sekitar 2 tahun, dan ada pula yang perjalanannya lambat (non-progressor).

Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela). Dalam masa ini, bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walaupun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV. Seiring dengan memburuknya kekebalan tubuh, orang yang terinfeksi HIV mulai menampakan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik (infeksi tambahan yang terjadi bersamaan dengan infeksi lainnya), seperti berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat, demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan), rasa lemah, pembesaran kelenjar getah bening, diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan), batuk berkepanjangan (lebih dari satu bulan), TBC, kelainan kulit dan iritasi (gatal), infeksi jamur, herpes, dan lainnya.

Penularan HIV/AIDS terjadi melalui : Cairan darah :

  • Melalui transfusi darah / produk darah yang sudah tercemar HIV
  • Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika suntikan
  • Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali (tidak diganti baru) dalam kegiatan lain, misalnya : peyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah

Cairan sperma dan cairan vagina :
  • Melalui hubungan seks, baik homoseksual maupun heteroseksual yang dapat terjadi melalui cara penetratif (penis masuk ke dalam vagina/anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.
  • Hubungan seksual secara anal (lewat dubur) paling berisiko menularkan HIV, karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah terluka dibandingkan epitel dinding vagina, sehingga HIV lebih mudah masuk ke aliran darah. Dalam berhubungan seks vaginal, perempuan lebih besar risikonya daripada pria karena selaput lendir vagina cukup rapuh. Di samping itu, karena cairan sperma akan menetap cukup lama di dalam vagina, kesempatan HIV masuk ke aliran darah menjadi lebih tinggi. HIV di cairan vagina atau darah tersebut, juga dapat masuk ke aliran darah melalui saluran kencing pasangannya.
Air Susu Ibu :
  • Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina (lahir secara alamiah, tidak dengan sesar), kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
  • Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.
Oleh karena itu, kelompok risiko tinggi terhadap HIV/AIDS terdapat pada pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya, serta narapidana. Namun, saat ini, infeksi HIV/AIDS juga telah mengenai semua golongan masyarakat, baik kelompok risiko maupun masyarakat umum.

Sebuah survei yang dilakukan di Tanjung Balai Karimun menunjukkan peningkatan jumlah pekerja seks komersil (PSK) yang terinfeksi HIV, yaitu dari 1% pada tahun 1995/1996 menjadi lebih dari 8,83% pada tahun 2000. Fakta yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa peningkatan infeksi HIV yang semakin nyata pada pengguna narkotika, yang sebagian besar adalah remaja dan usia dewasa muda yang merupakan kelompok usia produktif. Anggapan bahwa pengguna narkotika hanya berasal dari keluarga broken home dan kaya tampaknya semakin luntur. Pengaruh teman sebaya (peer group) tampaknya lebih menonjol. Penggunaan narkotika suntik mempunyai risiko tinggi untuk tertular oleh virus HIV atau bibit-bibit penyakit lain yang dapat menular melallui darah. Survey yang dilakukan di RS Ketergantungan Obat di Jakarta menunjukkan peningkatan kasus infeksi HIV pada pengguna narkotika yang sedang menjalani rehabilitasi, yaitu 15% pada tahun 1999, meningkat cepat menjadi 40,8% pada tahun 2000, dan 47,9% pada tahun 2001. Surveilens pada donor darah dan ibu hamil biasanya digunakan sebagai indikator untuk menggambarkan infeksi HIV/AIDS pada masyarakat umum. Persentasi kantung darah yang dinyatakan tercemar HIV/AIDS jumlahnya makin lama makin meningkat, yaitu 0,002% pada periode 1992/1993, 0,003% pada periode 1994/1995, 0,004% pada periode 1998/1999 dan 0,016% pada tahun 2000.

Bagaimana dengan cairan tubuh yang lain, misalnya air ludah yang dapat ditularkan melalui ciuman? Dapatkah menularkan HIV? Meskipun HIV dapat ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dalam air ludah dari seseorang yang terinfeksi HIV, akan tetapi tidak ada bukti yang kuat bahwa air ludah dapat menularkan infeksi HIV, baik dari ciuman maupun dengan cara lainnya. Selain itu, air ludah mengandung bahan-bahan penghambat pertumbuhan mikroorganisme, seperti enzim lisosim, laktoperosidase (suatu enzim), serta faktor antivirus endogen, yang diantaranya adalah imunoglobulin spesifik HIV isotipe IgA, IgG, dan IgM yang dapat dideteksi pada air ludah dari orang yang terinfeksi HIV. Dalam air ludah juga diperkirakan terdapat glikoprotein yang besar seperti musin (seperti lendir) dan trombospodin-1 yang membuat virus HIV terkumpul menjadi satu seperti suatu kumpulan (aggregates) sehingga dapat dibersihkan oleh manusia (host/pejamu). Lalu, beberapa faktor yang mudah larut yang terdapat dalam air ludah juga dapat menghambat HIV dengan jumlah yang bervariasi.

Hal lain yang menyebabkan virus HIV tidak dapat ditularkan melalui air ludah adalah karena virus HIV hanya bermarkas di dalam limfosit-T, di mana limfosit-T adanya di dalam darah, bukan di air ludah. Selain itu, terdapat suatu penelitian yang mengatakan bahwa secretory leukocyte protease inhibitor (SLPI) dapat memblok infeksi HIV dan zat ini terdapat dalam air ludah dengan jumlah yang mendekati untuk berkembangbiaknya HIV secara in vitro. Akan tetapi, kalau Anda berciuman dengan seseorang yang HIV-positif kemudian terjadi perdarahan maka jika darah yang HIV-positif tadi masuk ke tubuh Anda saat ciuman, Anda pun dapat berisiko tertular HIV. Risiko akan besar kalau sedang terjadi sariawan karena terdapat luka-luka di rongga mulut yang bisa menjadi pintu masuk HIV. Sama halnya dengan berjabat tangan (kontak fisik), kontak fisik pun tentu tidak bisa menjadi media penularan kalau tidak terjadi perdarahan ketika bersalaman. Penyebaran HIV melalui gigitan manusia dapat terjadi tetapi hal ini merupakan peristiwa yang jarang. Hanya empat kasus dari seluruh penyebaran HIV yang pernah dilaporkan. Penyebaran HIV melalui cairan tubuh lain, seperti air mata, keringat dan air kencing juga tidak mempunyai bukti yang kuat bahwa HIV dapat menular melalui cairan-cairan tersebut. Jadi, makan dan minum bersama, atau pemakaian alat makan minum bersama, pemakaian fasilitas umum bersama, seperti telepon umum, WC umum, dan kolam renang, ciuman, senggolan, pelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya tidak dapat menularkan HIV, kecuali bila dalam kontak tersebut terdapat kontak darah, baik yang terlihat (berdarah dalam jumlah banyak) maupun tidak terlihat (berdarah dalam jumlah sedikit). Gigitan nyamuk pun tidak mempunyai bukti dalam menularkan HIV.

Bagaimana cara pencegahan penyebaran HIV?
  • Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka. Jangan bergantian.
  • Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV).
  • Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.
  • Abstinensi (puasa tidak melakukan hubungan seks). Apabila ingin melakukan hubungan seks yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman dan menggunakan kondom.
  • Melakukan prinsip monogami, yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya.
  • Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar.
Karena penularan HIV lewat cairan tubuh seperti air ludah, keringat, air kencing, air mata tidak terjadi, maka janganlah kita mempunyai perasaan yang jijik atau jorok ketika kita berkontak biasa dalam kehidupan sehari-hari dengan penderita AIDS. Kita semua diharapkan untuk tidak mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban. Mereka juga adalah manusia yang sama seperti kita yang ingin merasakan kehidupan sosial yang sama seperti kita. 

Sumber : Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed.4. Editor : Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B. , Alwi, I. , Simadibrata K. , Marcellus, Setiati, S. Jakarta : FKUI. Fauci, Anthony S. dkk. 2008. Harrison's Principles of Internal Medicine Vol. 1, 17th ed. New York : McGraw-Hill. http://chaliciousgealgeol.wordpress.com http://konsultasikesehatan.epajak.org http://senyumsehat.wordpress.com http://www.geocities.com http://www.infopenyakit.com https://www.tanyadok.com