Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Keanekaragaman dan Jenis Bioma yang Tersebar di Seluruh Dunia

Keanekaragaman dan Jenis Bioma yang Tersebar di Seluruh Dunia


Blog Pelajaran- 


Di darat, jenis serta persebaran flora dan fauna
terbagi menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.

a. Bioma Gurun Pasir
1) Vegetasi yang hidup, yaitu tumbuhan
musiman, segera akan tumbuh jika hujan
turun, umumnya relatif pendek, tetapi bijinya
tahan lama; tumbuhan menahun, dengan ciriciri:
berdaun kecil atau tidak berdaun, berakar
panjang, batangnya mempunyai jaringan
sehingga dapat menyimpan air, umumnya
terdiri dari bermacam-macam kaktus.
2) Jenis hewan umumnya bertubuh kecil, hidup
di lubang-lubang, dan mencari mangsa pada
malam/pagi hari. Contohnya kalajengking, ular,
kadal, serangga, dan laba-laba.
Gurun yang panas merupakan daerah-daerah
dalam wilayah iklim tropis dan subtropis yang
mempunyai curah hujan yang rendah. Curah hujan ratarata
kurang 20 cm setiap tahun dan intensitas matahari
yang tinggi. Gurun memiliki suhu permukaan 60°C
selama siang hari. Gurun merupakan suatu daerah yang
memiliki sifat tanah berupa batuan atau lempung,
biasanya mudah pecah-pecah. Sering kali tanah
menjadi berkerikil, berpasir, bergeluh atau berbatu, tetapi
selalu bersifat kering. Bioma hutan gurun hanya dapat dihuni oleh
tumbuhan dan hewan yang mempunyai adaptasi yang tepat
terhadap lingkungan. Tumbuhan gurun beradaptasi dengan
berbagai cara seperti memiliki daun yang kecil (berduri) dan
mempunyai akar yang panjang. Dengan struktur seperti itu,
tumbuhan dapat mengurangi penguapan dan mendapatkan air dari
tempat yang dalam. Bioma gurun banyak ditemukan di Sahara
Afrika, Gurun Gobi di Mongolia, dan di Australia.


Persebaran Bioma Di Indonesia


b. Bioma Padang Rumput
1) Vegetasi yang hidup: di daerah basah
(rumputnya dapat mencapai ketinggian 3 cm, misalnya
Blustem dan Indian grasses), di daerah kering,
(rumputnya pendek, misalnya Grama dan Buffalo
grasses).
2) Jenis hewan, yaituyang merupakan konsumen
primer herbivora dan bertubuh besar, misalnya bison di
Amerika, zebra di Afrika, serta kanguru di Australia;
sebagai predator herbivora, seperti singa dan anjing liar;
dan hewan jenis lain: ular, belalang, rodentina, dan
bermacam-macam burung.
Padang rumput yang terdapat di daerah tropis dan
subtropis biasanya berbentuk sabana yang terdiri dari
pepohonan yang tersebar berjauhan. Padang rumput
tropis berbeda dari padang rumput daerah iklim sedang
yang sering tidak berpohon, kecuali di sepanjang batang
air. Yang penting bagi padang rumput adalah musim kemarau,
kebakaran sering terjadi, dan pemakanan rumput oleh
mamalia besar menyebabkan pencegahan pembentukan
semak berkayu dan pohon-pohon. Kelangkaan pepohonan
dan berlimpahnya rerumputan, ditambah dengan hujan dan
kekeringan yang bersifat musiman menentukan jenis hewan
di padang rumput. Hewan pepohonan jarang ditemukan.
Walaupun ada, berjumlah sedikit dan terbatas pada belukar
dan lahan hutan yang terpencil. Berlimpahnya dan keragaman
rerumputan menyebabkan padang rumput merupakan tempat
ideal untuk herbivora. Hewan Herbivora yang besar tidak
mampu hidup terus-menerus sepanjang tahun dan harus
berpindah-pindah selama musim panas untuk mendapatkan
air atau mencari daerah yang baru. Herbivora yang lebih kecil
harus beradaptasi dengan cara yang lain, seperti tidur selama
masa musim dingin.

c. Bioma Hutan Basah
1) Vegetasi yang hidup, yaitu tumbuhan berkayu,
tingginya 20 - 40 m dengan cabang dan daun
yang lebat, dan membentuk suatu tudung yang
menyebabkan hutan menjadi gelap; tumbuhan
perdu, rotan, tumbuhan epifit, dan higrofit.
2) Jenis hewannya yaitu, yang hidup di atas
tumbuhan, seperti kera, tupai, dan aneka
burung; yang hidup di bawah, seperti babi,
kucing hutan, dan lain-lain; hewan karnivora,
seperti macan tutul di Asia/ Afrika dan jaguar
di Amerika.

    Bioma hutan basah merupakan jenis hutan yang
paling subur. Bioma hutan basah terdapat di daerah
tropis yang basah dengan curah hujan yang tinggi dan tersebar
sepanjang tahun, serta mendapatkan sinar matahari yang cukup
seperti di Amerika Tengah dan Selatan, Afrika Tengah,
Asia Tenggara, dan Australia Timur Laut. Pohon pada
bioma ini dapat cepat dikenali dengan adanya kanopi
pada bagian atas pohon. Kanopi seringkali rapat
sehingga menyulitkan cahaya matahari untuk mencapai
tanah yang ada di bawahnya, ketika kanopi terbuka maka
akan banyak pohon atau tanaman merambat yang
berkayu bersaing untuk mendapatkan sinar matahari.
Dalam hutan ini pohonnya tinggi-tinggi, dan umumnya
berdaun lebar dan selalu hijau, memiliki berbagai jenis
tanaman. Sering terdapat paku-paku pohon, tanaman
merambat berkayu lianan yang sering dapat mencapai
puncak pohon-pohon yang tinggi, dan epifit seperti pakupakuan,
anggrek, dan lain-lain. Hutan ini kaya akan jenisjenis
hewan invertebrata dan vertebrata.

d. Bioma Hutan Gugur
1) Vegetasi yang hidup yaitu tumbuhan tropis yang
dapat beradaptasi dengan musim dan
tumbuhan yang tumbuhnya tidak terlalu rapat.
2) Jenis hewan, seperti serigala, rusa, beruang,
rubah, bajing, dan burung pelatuk.
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim
kontinen sedang dengan musim dingin yang keras,
seperti di ujung selatan Benua Amerika, Amerika Serikat
bagian Timur, kepulauan Inggris, dan Australia. Jumlah
tumbuhan di bioma hutan gugur jumlahnya sedikit dan
tidak terlalu rapat. Pohon-pohon yang dominan adalah
pohon-pohon yang berdaun lebar yang menggugurkan
daunnya pada musim dingin, ketika suhu yang ada
terlalu rendah untuk melakukan fotosintesis dan
kehilangan air melalui transpirasi tidak dengan mudah
digantikan dari tanah yang beku. Curah hujan di daerah
ini berkisar antara 750 mm - 1.000 mm. daerah ini
mempunyai 4 musim yaitu musim panas, musim gugur,
musim dingin, dan musim semi. Hewan-hewan banyak
tetapi aktivitasnya bermusim.

e. Bioma Taiga
1) Vegetasi yang hidup
umumnya berupa tumbuhan konifer, misalnya:
picea, alnus, betula, dan juniperus.
2) Jenis hewan,
misalnya moose, beruang hitam, ajag, dan marten.
Bioma taiga terdiri dari jenis-jenis konifer. Bentuk
daun dari tumbuhan ini seperti jarum dan berlapis zat
lilin untuk tahan terhadap kekeringan.Sebagian besar
hutan taiga didominasi oleh satu atau beberapa jenis
pohon. Taiga adalah bioma teristerial terbesar di atas
bumi yang meluas dalam suatu wilayah yang lebar
melintasi Amerika Utara bagian Utara dan Eurasia
hingga perbatasan selatan tundra Arktik. Taiga
mengalami hujan salju yang lebat selama musim dingin.
Di daerah ini musim dingin cukup panjang, sedangkan
musim kemarau yang panas sangat singkat.

f. Bioma Tundra
1) Vegetasi yang hidup umumnya berupa lumut
dari jenis Sphagnum dan Lichenes (lumut
kerak).
2) Jenis hewan umumnya berbulu dan berambut
tebal, seperti beruang, reider, walrus, seal, dan
pinguin.
Istilah tundra bermakna dataran tanpa pepohonan.
Suhu yang sangat dingin dan angin yang sangat kencang
menjadi faktor penentu tidak adanya pohon dan
tumbuhan tinggi lainnya di tundra Arktik dan di Alaska
Tengah. Walaupun mendapatkan curah hujan yang
sedikit, tetapi wilayah tundra tetap membeku dan tandus.
Hal ini disebabkan oleh air hujan tidak dapat menembus
tanah bagian bawahnya dan akan menumpuk di dalam
kolam di atas bunga tanah yang dangkal selama musim
panas yang pendek. Tundra menutupi luas yang sangat
besar di Arktik, yaitu mencapai 20% permukaan tanah
bumi. Kecepatan angin yang tinggi dan suhu yang dingin
menciptakan komunitas tumbuhan yang sama, yang disebut tundra
alpina. Bioma tundra terdapat hampir di seluruh Arktik dan pulaupulau
kecil dekat Antartika.


2. Bioma di Air
Berdasarkan salinitasnya (kadar garamnya), habitat air
(akuatif) dibedakan menjadi tiga, yaitu habitat air tawar, habitat
pantai, dan habitat laut.

a. Habitat Air Tawar
Yang termasuk habitat air tawar adalah sungai,
kolam, danau, dan rawa.
1) Vegetasi yang hidup yaitu eceng gondok,
teratai, dan aneka jenis alga.
2) Jenis hewan yaitu aneka jenis ikan tawar, seperti
mujair, ikan mas, gurame, dan sebagainya.
     Habitat air tawar merupakan kehidupan yang terdapat di
perairan tawar. Habitat air tawar kebanyakan berupa air pedalaman.
Kadar garam dalam habitat ini sangat rendah sehingga sering
diabaikan. Tumbuhan dan hewan telah tersesuaikan dengan air
tawar.
Penyesuaian tumbuhan dalam air tawar berupa:
1) terbentuknya rongga udara besar yang dipisahkan oleh
diafragma yang berfungsi untuk menyimpan gas;
2) tumbuhan air biasanya tidak terdapat rambut akar, hal ini
dimaksudkan agar tumbuhan tidak menyerap air;
3) tumbuhan air pada umumnya terapung dan bobot tumbuhan
air disangga oleh airnya;
4) tumbuhan air memiliki daun yang sangat tipis dengan kloroplas di
dalam sel epidermisnya, hal ini berfungsi untuk memaksimalkan
penyerapan sinar matahari untuk fotosintesis.

Tumbuhan air tawar dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu:
1) jenis tumbuhan apung,
2) jenis daun apung,
3) jenis timbul,
4) jenis terendam.

Sedangkan penyesuaian hewan dalam air tawar berupa:
1) daya apung,
2) pengaturan osmosis,
3) pembiakan,
4) pemencaran.

b. Habitat Laut
Habitat ini dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai
berikut.
1) Fotik, ialah daerah yang cukup mendapat cahaya.
a) Vegetasi yang hidup pada umumnya berupa
jenis rumput-rumputan.
b) Jenis hewan, misalnya aneka ragam ikan dan
udang-udangan.
2) Afotik, ialah daerah yang kurang mendapat cahaya.
Di wilayah ini organisme yang hidup berupa
phytoplankton dan zooplankton atau hewan- hewan yang
berukuran kecil, misalnya hewan bentos.
Luas lautan meliputi 70% dari luas permukaan bumi. Habitat
laut berbeda dengan habitat air tawar. Hal ini dapat dibuktikan
dengan tumbuhan laut. Jika ditempatkan di air tawar, maka
tumbuhan tersebut akan mati, begitu pula sebaliknya. Faktor-faktor
yang memengaruhi organisme yang ada di laut adalah cahaya,
naik turunnya suhu udara, kondisi fisik laut, dan salinitas.
Zat-zat padat yang terlarut dalam air laut yaitu NaCl, MgCl,
MgSO4, zat-zat tersebut sangat melimpah dalam air laut. Air laut
merupakan larutan penyangga dan menunjukkan ketahanan
terhadap alkalinitas. Tersedianya karbon dioksida dalam jumlah yang
besar untuk fotosintesis tidak pernah mengganggu keadaan air laut
sebagai penyangga dan alkalitas yang rendah memungkinkan
organisme hidup untuk mengambil kalsium karbonat (CaCO3) dan
zat lainnya. Hal ini sering terjadi di laut panas sehingga sering
ditemukan cangkang-cangkang kapur, batu karang, dan lain-lain.
Air laut mengandung semua unsur kimia yang penting untuk
pertumbuhan dan pemeliharaan protoplasma sehingga air laut
merupakan habitat yang cocok untuk sel-sel hidup dengan syarat
sel-sel tersebut disesuaikan dengan konsentrasi garamnya.

c. Habitat Pantai
1) Vegetasi yang hidup cirinya yaitu tumbuh: menjalar
dengan geragih yang panjang, berakar besar,
contohnya ubi, rumput angin, pandan pantai, bakung
pantai, dan sebagainya.
2) Jenis hewan, misalnya ikan bandeng dan udang.
Habitat pantai merupakan habitat yang dipengaruhi
oleh pasang surut air laut. Organisme pada pantai
harus mempunyai adaptasi terhadap terpaan gelombang. Terpaan
gelombang dan ombak memindahkan partikel lumpur dan pasir,
dan beberapa alga besar atau tumbuhan pada habitat ini. Banyak
hewan, seperti cacing dan remis pemakan suspensi serta krutase
pemangsa, membenamkan dirinya di dalam pasir atau Lumpur.
Hewan di habitat ini akan mengambil makanan ketika air pasang.
Sedangkan hewan lain, seperti kepiting dan burung pantai, adalah
pemakan bangkai atau pemangsa organisme lain.

Penelitian Ilmiah Biologi IPA Kelas X

Penelitian Ilmiah Biologi IPA Kelas X

Blog Pelajaran Rancangan penelitian adalah pokok-pokok perencanaan
seluruh penelitian yang tertuang dalam suatu kesatuan naskah
secara ringkas, jelas, dan utuh. Rancangan penelitian dibuat dengan
tujuan agar pelaksanaan penelitian dapat berjalan secara benar,
baik, dan lancar. Rancangan penelitian memuat judul penelitian,
latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah
penelitian, tujuan dan fungsi penelitian, tinjauan
kepustakaan, hipotesis (kalau diperlukan), batasan konsep,
metodologi penelitian dan daftar kepustakaan.


penelitian ilmiah


Syarat-syarat rancangan penelitian seperti berikut ini.

1. Sistematis, artinya unsur-unsur yang ada dalam rancangan
penelitian harus tersusun dalam urutan yang logis. Setiap
rancangan harus menentukan judul penelitian, menjelaskan
latar belakang, dan tujuan penelitian.

2. Konsisten, artinya terdapat kesesuaian di antara unsurunsurnya,
misalnya antara judul dengan tujuan, antara rumusan
masalah dengan tujuan, antara rumusan masalah dengan
metodologi, dan sebagainya.

3. Operasional, artinya dapat menjelaskan bagaimana penelitian
itu dilakukan, misalnya data yang diinginkan, cara pengamatan
terhadap objek penelitian, alat yang digunakan, dan penentuan
objek penelitian.
Selain ketiga syarat di atas, penelitian harus bermanfaat bagi
masyarakat maupun perkembangan ilmu pengetahuan, mempunyai
daya tarik, dan secara operasional memungkinkan untuk diteliti
kembali.

1. Judul penelitian
Judul penelitian sebagai nama, sekaligus identitas
penelitian yang dicantumkan dalam berbagai dokumen. Judul
penelitian harus ringkas, spesifik, dan jelas untuk memberi
gambaran mengenai masalah yang diteliti.
Judul penelitian contohnya:
“Pengaruh pemberian pakan pelet BR terhadap pertambahan
berat ayam kampung umur 10 hingga 40 hari“

2. Latar belakang masalah
Dalam membahas latar belakang masalah, peneliti harus
menunjukkan alasan memilih masalah topik atau judul. Dengan
demikian fungsi uraian tentang latar belakang masalah memberi
alasan mengapa masalah atau topik dipilih oleh peneliti. Banyak
masalah yang menjadi topik tapi hanya satu masalah saja yang
dipilih, mengapa masalah itu diusulkan untuk diteliti.
Misalnya:
Penelitian pengaruh pemberian pakan pelet BR terhadap
pertambahan berat ayam kampung umur 10 sampai 40 hari,
berlatar belakang sebagai berikut.
– Pentingnya produksi ayam kampung dikaitkan dengan
kebutuhan bahan pangan protein hewani.
– Pertambahan berat ayam pada umur tertentu sangat
berpengaruh terhadap produksi ayam kampung.
– Belum ada penelitian tentang pengaruh pakan pelet BR
terhadap pertambahan berat ayam kampung pada umur
tertentu.

3. Rumusan masalah
Rumusan masalah penelitian berupa pertanyaanpertanyaan
yang memudahkan untuk merancang penelitian.
Rumusan masalah harus dijabarkan secara operasional dan
spesifik dari judul penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam rumusan masalah, yaitu:
– masalah dirumuskan dengan kalimat sederhana dan dalam
bentuk pertanyaan;
– singkat, jelas, dan padat serta tidak menimbulkan kerancuan
pengertian.
Perumusan masalah, misalnya:
“Adakah pengaruh jumlah pakan pelet BR terhadap
pertambahan berat ayam kampung umur 10 sampai 40 hari?”

4. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian dimaksudkan sebagai jawaban atas
keingintahuan suatu masalah dalam penelitian. Perumusan
tujuan penelitian harus sejalan dengan rumusan masalah
penelitian. Tujuan penelitian dirumuskan dalam kalimat
pernyataan. Jadi tujuan penelitian merupakan rumusan kalimat
yang menunjukkan keinginan peneliti untuk mencapai sesuatu
melalui penelitian.
Contoh:
Mengetahui pengaruh pemberian pakan pelet BR terhadap
pertambahan berat ayam kampung umur 10 sampai 40 hari.

5. Manfaat penelitian
Manfaat penelitian perlu dikemukakan agar diketahui
hasil yang hendak dicapai dari penelitian dan untuk siapa
penelitian itu digunakan.
Manfaat penelitian bisa bersifat praktis, misalnya mempermudah
pengambilan kebijaksanaan, dan dapat juga bersifat
teoritis, misalnya memperkaya dan mengembangkan khasanah
ilmu pengetahuan.
Manfaat penelitian misalnya:
– sebagai masukan bagi para peternak dalam meningkatkan
produksi ayam kampung
– sebagai masukan dalam pengembangan teknologi
peternakan


6. Proposal penelitian
Proposal penelitian meliputi: identifikasi variabel, latar
belakang masalah, manfaat penelitian, tinjauan pustaka,
hipotesis (jika ada), dan metode penelitian.
Contoh identifikasi variabel penelitian:
Identifikasi variabel pada penelitian tentang pengaruh pakan
pelet BR terhadap pertambahan berat tubuh ayam kampung
umur 10 – 40 hari.
Variabel manipulasi: Jumlah pakan pelet BR yang diberikan
Variabel respon: pertambahan berat tubuh ayam kampung.
Variabel kontrol: jenis ayam kampung, suhu udara, kelembapan,
intensitas cahaya, luas kandang.


7. Tinjauan pustaka
Tinjauan pustaka ini meliputi:
– Mempelajari hasil yang diperoleh dari setiap sumber yang
relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.
– Mempelajari metode penelitian yang telah digunakan,
termasuk metode pengambilan sampel, pengumpulan
data, sumber data, dan satuan ukuran data.
– Mengumpulkan data dari sumber lain yang berhubungan
dengan bidang penelitian yang akan dilakukan.
– Mempelajari analisis deduktif dan problema yang diteliti.
Analisis deduktif yang dimaksudkan adalah berpikir dari
hal yang abstrak ke hal yang konkret.
Di dalam tinjauan pustaka, uraian diharapkan dapat
menjelaskan (walaupun baru teoritik) masalah yang diteliti serta
hubungan antara variabel yang terkait. Contoh: Penelitian
tentang pengaruh pakan pelet BR terhadap pertambahan berat
ayam kampung umur 10 – 40 hari, tinjauan pustakanya,
sebagai berikut.
– Teori tentang pertumbuhan ayam kampung dan faktorfaktor
yang memengaruhinya.
– Pengetahuan kandungan zat gizi yang terdapat dalam pelet
BR.
– Hubungan zat gizi yang dikandung oleh pelet BR terhadap
pertambahan berat badan ayam kampung.

8. Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu kemungkinan jawaban dari
masalah yang diajukan. Hipotesis dapat dikatakan sebagai
pendapat yang masih sederhana (sementara) karena belum
diuji kebenarannya.
Hipotesis berfungsi sebagai jawaban sementara untuk
masalah penelitian. Hipotesis dinyatakan dalam bentuk kalimat
pernyataan yang menghubungkan dua variabel atau lebih.
Berdasarkan isi dan rumusannya, hipotesis dibedakan menjadi
dua, berikut ini.
– Hipotesis alternatif atau Kerja atau Asli (Ha) adalah
dugaan yang menyatakan ada pengaruh.
– Hipotesis nol (Ho) adalah dugaan yang menyatakan tidak
ada pengaruh.
Perlu diketahui bahwa tidak semua penelitian harus
mempunyai hipotesis. Hipotesis diperlukan jika penelitian
mempersoalkan hubungan antarvariabel. Penelitian eksploratif
(penelitian yang bersifat menjelajah) dan penelitian deskriptif
(penelitian yang bersifat menggambarkan) tidak memerlukan
hipotesis karena tujuannya tidak menguji hipotesis akan tetapi
menjawab masalah penelitian.
Penelitian yang memerlukan hipotesis adalah penelitian
eksplanatif (penelitian yang bersifat mencari hubungan antar
variable).
Misalnya:
Terdapat pengaruh positif pemberian pakan pelet BR terhadap
pertambahan berat tubuh ayam kampung umur 10 sampai 40
hari.

9. Metode penelitian
Metode penelitian menguraikan bagaimana cara
melakukan penelitian tersebut, mulai dari menentukan populasi
dan sampel, operasional variabel, prosedur pengumpulan data,
dan analisis data.

a. Operasional variabel
Variabel adalah faktor yang berpengaruh, memiliki nilai
(ukuran) tertentu dan dapat berubah atau diubah. Oleh
karena itu variabel merupakan faktor peubah. Misalnya:
·        variabel manipulasi/bebas, faktor ubah yang sengaja
dibuat berbeda-beda oleh pelaku peneliti.
Misalnya: jumlah pakan pelet BR yang diberikan.
·        variabel respon/terikat faktor ubah yang terjadi sebagai
akibat proses yang sedang berjalan.
Misalnya: pertambahan berat ayam kampong

Definisi operasional:
Kecepatan pertambahan berat tubuh ayam kampung dalam
satuan gram.
b. Merancang penelitian, yaitu membuat rancangan yang
menggambarkan hubungan antara variabel bebas dengan
variabel terikat yang akan diteliti.

c. Menentukan populasi dan sampel
·        Populasi, merupakan sekelompok objek penelitian yang
kesimpulannya akan digeneralisasikan.
Misalnya: populasi yang dimaksudkan dalam penelitian
ini adalah jenis ayam kampung.
·        Sampel adalah sebagian anggota yang mewakili
populasi. Misalnya: diambil sampel 50 ekor ayam kampung

d. Menentukan instrumen/alat dan bahan yang diperlukan
dalam melakukan penelitian (eksperimen). Instrumen yang
diperlukan antara lain:
Tempat untuk memelihara 50 ekor ayam kampung dibagi
5 kelompok masing-masing kelompok 10 ekor, pakan pelet
BR, tempat air untuk minum, tempat pakan, timbangan,
kertas, alat tulis.

e. Menyiapkan langkah-langkah penelitian atau cara kerja
dalam memperoleh data
– Tempatkan ayam kampung pada tempat yang
disediakan
– Kelompokkan sesuai dengan perlakuan pada rancangan
percobaan.
– Lakukan penimbangan berat masing-masing ayam
kampung setiap 5 hari.
– Catat hasilnya dan masukkan ke dalam tabel sampai
ayam berumur 40 hari.
– Lakukan analisis data.

f. Merancang analisis data
Analisis data merupakan cara mengolah data penelitian
untuk membuktikan berlaku tidaknya hipotesis yang
diajukan.
Contoh:
– Mencari nilai rata-rata berat ayam kampung pada tiap
perlakuan.
– Membandingkan antara hasil perlakuan yang satu
dengan perlakuan yang lain.

g. Menyusun jadwal penelitian. Memperkirakan lama waktu
dalam penelitian sampai dengan penulisan laporan.

h. Mengumpulkan data dari hasil percobaan
Setelah alat dan bahan telah siap, dimulailah eksperimen/
percobaan seperti yang telah direncanakan. Pertumbuhan
berat tubuh ayam diukur/ditimbang setiap 5 atau 10 hari.
Kemudian buatlah tabel data pengamatan untuk setiap
kelompok percobaan, data yang diperoleh dicatat dalam
tabel, dengan demikian diperlukan 5 tabel pengamatan
pertumbuhan. Misalnya:

i. Mendeskripsikan data, menginterpretasi data, dan menguji
hipotesis. Maksud dari mendeskripsikan data adalah menyajikan data
dalam bentuk yang mudah dipahami oleh orang lain. Dalam
penyajian data, angka-angka yang ditampilkan sudah
merupakan hasil rata-rata hasil perlakuan,
Misal, Jika pada data yang disajikan terjadi kenaikan berat tubuh
ayam kampung sesuai dengan jumlah pertambahan pakan
pelet BR yang diberikan, dapat diinterpretasikan bahwa peningkatan
pakan pelet BR dapat meningkatkan pertambahan berat ayam kampung.

j. Menguji hipotesis
Hipotesis yang telah dirumuskan adalah “Terdapat pengaruh
positif pemberian pakan pelet BR terhadap pertambahan
berat tubuh ayam kampung “. Jika data-data yang
diperoleh mendukung hipotesis, hipotesis yang diungkap di
atas terbukti benar.

k. Menyusun pembahasan hasil penelitian
Pembahasan hasil penelitian ialah membandingkan hasil
penelitian, teori, fakta, dan konsep-konsep yang ditulis dalam
tinjauan pustaka. Kemudian memberikan alasan-alasan
(argumentasi) untuk memperkuat hasil penelitian.

l. Kesimpulan dan saran
Kesimpulan dan saran ini didasarkan pada analisis data
dan pembahasan. Kesimpulan harus mengacu pada tujuan
penelitian, misal kesimpulan penelitian di atas adalah;
“Jumlah pemberian pakan pelet BR berpengaruh terhadap
pertambahan berat tubuh ayam kampung umur 10 sampai
40 hari”.
Dari kesimpulan dapat dirumuskan saran-saran, misalnya:
– Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui
faktor-faktor lain yang memengaruhi penambahan berat
tubuh ayam kampung.
– Perlu dikaji ulang berapa jumlah penambahan pakan
pelet BR yang efektif untuk mempercepat pertambahan
berat tubuh ayam kampung.

m. Menyusun daftar pustaka
Daftar pustaka disusun secara berurutan berdasarkan
abjad. Contoh:
– Biologi, Campbell – Reece – Mitchell, Edisi kelima –
Jilid 3, Penerbit Erlangga, tahun 2004.
– Prosedur Penelitian, DR. Suharsini Arikunto, Penerbit
Rineka Cipta, tahun 1996.
– Zoologi, Prof. Drs. Radioputro, Penerbit Erlangga,
1983.